Jajanan Generasi Tahun 90'an

Jajanan Tempo Dulu, Tahun 90’an yang Sulit Dilupakan 




Anak Mas
Anak Mas
Jajanan satu ini mungkin bisa jadi cikal bakal cemilan-cemilan berbentuk mie instan yang ada saat ini. Mie dengan logo utama sepasang anak perempuan dan laki-laki dengan warna packaging sesuai namanya ‘mas’ ini memiliki rasa yang sangat khas diingatan para anak-anak pada generasi tahun 90’an. Satu lagi, menurut saya pribadi… jajanan ini juga mengajarkan anak-anak pada masanya untuk bersabar dan bekerja keras, why?? Karena sebelum kita makan, kita diwajibkan dulu untuk meremas dulu mie nya, kemudian meracik bumbunya, di shake dulu, baru bisa dimakan. Kalau jajanan mie instan zaman sekarang mana ada yang begitu, serba instan, sama kayak kebanyakan karakter anak zaman sekarang. Hahahaha… XD iyak apa iyaaak?




YOSAN

Hasil hunting maniak Yosan dulu :p termasuk saya


Permen Karet Yosan
Y-O-S-A-N .
Yup! Ejaan inilah yang wajib kita lengkapi dulu. Dengan logo hewan-hewan lucu di package depannya dan dengan tebakkan-tebakkan lucu dibagian dalam kemasannya, permen karet ini berhasil menghipnotis para anak-anak untuk mengumpulkan bungkusnya, entah permennya dimakan atau tidak, yang jelas huruf didalamnya. Oh ya, konon katanya, huruf ‘N’ pada ejaan ini ga pernah ada lho… Hahahaha….. XD kesian yah yang udah berharap, :p





Penampakkan gerobak es goyang


Ritual celupin es ke cokelat, mesti banyak
Es Goyang
Menurut saya, ini salah satu jajanan yang sehat. Kenapa?? Karena es yang digunakan tidak dicampur dengan bahan es nya *tidak seperti es zaman sekarang yang banyakan pakai es balok yang dengar-dengar dari air sungai mentah yang dicampur dan diblender bersama es nya*. Es ini juga sangat unik, karena pembuatannya yaitu dengan cara memasukkan bahan es yang berupa campuran santan, perisa, gula dan sedikit garam ke dalam cetakan-cetakan yang sebelumnya sudah dibenamkan dalam es, lalu digoyang-goyang (sesuai namanya), dan ditusukkan lidi untuk pegangannya. Es ini punya banyak rasa, ada cokelat, strawberry, susu, dan terkadang ada durian. Oh, iya! Jangan lupa, sebelum dimakan wajib dicelupkan dulu kedalam cokelat cair. emmmmmmm… yummi :9



Permen Kelinci
Permen susu berbungkus plastik dengan warna dasar putih dan gambar kelinci ini mempunyai keunikkan tersendiri, kamu tidak usah membuang bungkus bening didalamnya, karena bungkus yang berupa lembaran tipis itu adalah agar-agar, yang kalau kena air liur kita akan mencair. Hahaha… teknologi jajanan canggih pada zaman nya.

Permen susu kelinci


Gulali
Proses pembuatan
Siapa yang tidak tahu jajanan yang satu ini ??? dipastikan semua tahu. Untuk jajanan yang satu ini tidak sembarang orang bisa menjadi penjualnya… karena sangat dibutuhkan kreativitas yang tonggi untuk bisa membentuk gulali yang masih panas dan lunak itu sebelum akhirnya mengeras. Saya ingat dulu, saya paling suka beli gulali dengan bentuk balon, ya… balon. Sesuai namanya, saya diwajibkan untuk meniup gulali itu sampai menggembung baru kemudian sang penjual menempelkannya pada sebatang lidi dan membentuk pita pada dasar balonnya. Hahaha XD pernah karena terlalu semangatnya saya meniup balon gulali itu sampai pecah dan hancur saat mengeras XD
Hasil kreasi pedangang gulali



Simping dan cokelat
Simping
Mungkin tidak semua teman-teman generasi 90’an pernah mencobanya atau sekedar mendengarnya, ini jajanan khas di desa Majalengka tempat saya dulu tinggal saat kecil. Jadi, menu utama dari jajanan ini adalah simping, ya simping (sama seperti pendamping jajanan rambut nenek, namun bentuknya ikan dengan ukuran selebar tangan orang dewasa). Cara memakannya pun dengan mencolekkan simping ke cokelat yang diberi penjual dan diletakkan dibagian tengah simping itu. Maniiisss….



 
Superman
Wafer Cokelat SUPERMAN
Ini jajanan wafer pertama mungkin di Indonesia. Eksistensinya pun tidak perlu ditanya lagi, dari sekian banyak jajanan tempo 90’an, sepertinya hanya wafer ini yang masih tetap banyak produksi, bahakan mengalami revolusi packaging, gambar superman nya agak kecilan. *udah capek kali superman nya yah.. :p






 
Permen Davos
Permen Bolong Davos
Ini sama seperti permen polo dizaman sekarang. Suatu ketika saat saya ke kebumen, saya pernah mendapati pedagang yang masih menjual permen ini, saya langsung membelinya dan mereinkarnasi lagi rasanya. mmmmm…. Rasanya masih tetap mint dan enak.. hehehe… :P tapi sayang saat itu saya lupa mendokumentasikannya. L







 
Ayam Jago
Cokelat Ayam Jago
Kalau sekarang mungkin selevel silverqueen yah sobat. Hahaha :p bedanya hanya pada harganya, kalau silverqueen mungkin mahal dan cokelat ayam jago elit (baca: ekonomi sulit alias murah). Hahaha XD



Cokelat Choya-choya 
Choya-choya
Ini cokelat temannya cokelat ayam jago dulu, hanya bedanya cokelat yang satu ini berwujud lunak setengah cair dan harus dimakan dengan menggunakan sendok kecil yang selalu disediakan dibagian atas package karton cokelatnya. Warnanya pun warna-warni, ada coklat, hijau, pink, dan kuning. kreatif… (y) Oh iya, namanya choya-choya yah. bukan chaiya-chaiya :p






 
Permen rokok
Permen Susu Rokok
Ini biasanya khusus untuk anak-anak yang 'sotoy', sok-sok an ngerokok padahal isinya permen susu. -_-" tapi rasanya enak koq.. saya pernah coba, dan pernah sotoy juga.. hahaha XD












Mungkin sekian yang bisa saya share  untuk me-remind kembali ingatan sobat i-tuners yang waktu kecilnya di zaman 90’an. Selamat senyum-senyum sendiri dan kalau ada yang mau menambahkan… silakan….. :D

by Sakii

Journal Of Parasit

PARASITOLOGY
Saya mendapat dosen parasitologi lulusan UI yang katanya selalu belajar menggunakan jurnal dalam bahasa Inggris, so... my task was also to be the same as she :)
  1. In vivo imaging of trypanosomes for a better assessment of host–parasite relationships and drug efficacy
    Abstract: The advances in microscopy combined to the invaluable progress carried by the utilization of molecular, immunological or immunochemical markers and the implementation of more powerful imaging technologies have yielded great improvements to the knowledge of the interaction between microorganisms and their hosts, notably a better understanding of the establishment of infectious processes. Still today, the intricacies of the dialog between parasites, cells and tissues remain limited. Some improvements have been attained with the stable integration and expression of the green fluorescence protein or firefly luciferase and other reporter genes, which have allowed to better approach the monitoring of gene expression and protein localization in vivo, in situ and in real time. Aiming at better exploring the well-established models of murine infections with the characterized strains of Trypanosoma cruzi and Trypanosoma vivax, we revisited in the present report the state of the art about the tools for the imaging of Trypanosomatids in vitro and in vivo and show the latest
    transgenic parasites that we have engineered in our laboratory using conventional transfection methods. The targeting of trypanosomes presented in this study is a promising tool for approaching the biology of parasite interactions with host cells, the progression of the diseases they trigger and the screening of new drugs in vivo or in vitro.
    click here for download :)
  2. Pathogenicity of Achlya proliferoides and Saprolegnia diclina (Saprolegniaceae) Associated with Saprolegniosis Outbreaks in Cultured Nile Tilapia (Oreochromis niloticus)
    (saya menggunakan jurnal ini untuk tugas, eksperimennya mudah dipahami :D )
    Abstract: A study was conducted to evaluate the pathogenicity and pathology of Achlya proliferoides
    BSN-M005 and Saprolegnia diclina BSN-M003, isolated from saprolegniosis outbreaks against immature stages of Nile tilapia, Oreochromis niloticus. The cumulative mortality rates of the tested fish groups that exposed to high zoospore concentrations of A. proliferoides BSN-M005 and S. diclina BSN-M003 were 60 and 100% respectively. The histopathological changes associated with saprolegniosis lesions induced by S. diclina BSN-M003, were loss of the epidermis, edema of the hypodermis, different degrees of degenerative changes in the underling musculature and the fungal elements were observed penetrating the entire musculature. On the other hand, the histopathological changes associated with saprolegniosis lesions induced by A. proliferoides BSN-M005 showed mats of hyphae attached the surface of epidermis, necrosis, degenerative changes close to hyphae and sometimes fungal elements were observed penetrate into dermal layer but never reach the underling musculature. It is clear from our results that S. diclina BSN-M003 is highly pathogenic than A. proliferoides BSN-M005 to Nile tilapia.
    click here for download :)
  3. Monitoring and evaluation of lymphatic filariasis interventions: an improved PCR-based pool screening method for high throughput Wuchereria bancrofti detection using dried blood spots
    Abstract: Background: Effective diagnostic tools are necessary to monitor and evaluate interruption of Lymphatic Filariasis (LF) transmission. Accurate detection of Wuchereria bancrofti (Wb) microfilaria (mf) is essential to measure the impact of community treatment programmes. PCR-based assays are specific, highly sensitive tools allowing the detection of Wuchereria bancrofti DNA in human blood samples. However, current protocols describing the pool screening approach, use samples of less than 60 μl of blood, which limits the sensitivity of the pool-screen PCR assay. The purpose of this study was to improve the pool-screen PCR protocol to enhance its sensitivity and usefulness for population scale studies. Findings: DNA extractions were performed with the DNeasy kit, the PCR with the Wb LDR primers and the SYBR-Green dye. Improvements of our pool-screen real-time PCR (qPCR) assay allowed the detection of as little as one Wb microfilaria diluted in a pool of at least 12 blood samples of 60 μl each. Using this assay, mf burdens can be predicted using a standard curve derived from mf spiked dried blood samples. The sensitivity achieved is equivalent to the detection of a single LF positive individual carrying a mf burden as low as 18 mf/ml, in a pool of blood samples from at least 12 individuals. Conclusions: Due to its sensitivity, rapidity and cost-effectiveness, we suggest this qPCR pool-screening assay could be used as a diagnostic tool for population- scale filariasis elimination monitoring and evaluation.
    click here for download :)
  4. Research Article: New Host Record for Camponotophilus delvarei (Hymenoptera: Eurytomidae), a Parasitoid of Microdontine Larvae (Diptera: Syrphidae), Associated with the Ant Camponotus sp. aff. textor
    - This is not Journal but Research Article -
    click here for download :)

  5. Loa loa microfilaremia in a blood donor—A case report
    Abstract: We report a case of Loa loa microfilaremia in a healthy blood donor. The potential for transfu- sion-transmitted infection and the possibility of transfusion-associated allergic reactions calls for stringent donor requirements. We recom- mend that all blood products be additionally screened for possible hemoparasites.
    click here for download :)

Journal Of Ecology

EKOLOGI
Jurnal mengenai ekologi, karena kuliah saya selalu berhubungan dengan jurnal, maka saya diwajibkan untuk mencari jurnal mengenai ekologi untuk saya presentasikan individu dikelas, ini beberapa diantaranya yang sudah saya cari dari web. Semoga dapat membantu :)
  1. Fitososiologi Hutan
    Abstract: The degradation rate of forest in the recent 5 years increases rapidly, particulartly in Sulawesi. The biggest damaged comes from the human impact, which spreads to the conservation area. As a result, the areais decreased, whereas its function and its potency have not been explored. The ecological research has been conducted in Soloi forest, Suaka Margasatwa Buton Utara in May 2003. The objectives of this work are to study the condition, which belong to. 75 general and 35 families with density of trees are 277 individual (stem diameter > 10 cm ), and 1140 sampling ( 2-9,9 cm stem diameter ). The forest type is low land primary forest, which dominated by Casearia rugulosa, Diospyros pilosanthere, Cleistanthus myriantus, Canarium hirsutum, and Drypetes longifolia. In the forest structure, trees with 10-20 cm stem diameter is in the first rankwith the total number 57,02%, then followed by the trees with 20-30 cm diameter (20,22%). In general, the forest condition in research site is good, although a few areas are damaged due to illegal loging.
    click here for download :)

  2. Kehutanan
    Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara faktor aksesibilitas dengan penebangan liar
    dengan menggunakan data optikal penginderaan jauh dan SIG (Sistem Informasi Geografis). Dua set
    data dari Landsat-7 ETM+ pengambilan 16 Agustus 2002 dan 31 Mei 2003 digunakan dalam penelitian
    ini. Subpixel Classifier digunakan untuk memperoleh peta yang menunjukkan titik-titik baru
    penebangan, yaitu areal penebangan liar. Dua faktor dianalisa untuk mengetahui hubungannya dengan
    penebangan liar; jarak dari jalan dan jarak dari jalan masuk utama. Peta dibuat dengan menampilkan
    kelas-kelas dari dua faktor tersebut. Kedua peta tersebut ditampalkan secara terpisah dengan peta
    penebangan liar tahun 2002 dan 2003. Hubungan antara masing-masing faktor dan persentase
    penebangan liar dianalisa dengan menggunakan korelasi Spearman. Hasil dari pertampalan tersebut
    menunjukkan hubungan antara keduanya pada dua tahun tersebut. Penebangan liar lebih banyak
    ditemukan pada jarak yang lebih dekat dari jalan dan jalan masuk. Dengan demikian, dapat
    disimpulkan adanya hubungan antara jarak dari jalan dan jalan masuk dengan penebangan liar.
    Kata kunci: penginderaan jauh, SIG, penebangan liar, faktor aksesibilitas.
    click here for download :)

  3. Kondisi Ekologi dan Pemanfaatan Mangrove
    Abstract: This study aims to determine the ecological condition of mangrove forests, and the use/utilization of mangrove forests. The method used is method of survey and interview cruising. Ecological data retrieval is done by making transects kuadrant shaped by the size of 25x25 cm by 3 pieces lengthwise parallel to the coastline of South Tarohan Village. Respondents to the data carried by a purposive sampling interview respondents who have been determined. The results showed that the highest density is owned by Sonneratia alba and the highest frequency is owned by species Sonneratia Alba its index value is also important because it is owned by Sonneratia Alba. Sonneratia Alba is a type of mangrove, Sonneratia which have a dominant role in the mangrove forest ecosystem. Environmental conditions of coastal waters of South Tarohan village has a good environment and support the survival of mangrove forests and biota in the vicinity. South Tarohan Villagers were already aware of and understand the benefits of mangrove forests, it can not guarantee the preservation of mangrove forests because most people still use mangrove wood for household needs for fuel wood.
    click here for download :)

Rabu, 26 Maret 2014

Jajanan Generasi Tahun 90'an

Jajanan Tempo Dulu, Tahun 90’an yang Sulit Dilupakan 




Anak Mas
Anak Mas
Jajanan satu ini mungkin bisa jadi cikal bakal cemilan-cemilan berbentuk mie instan yang ada saat ini. Mie dengan logo utama sepasang anak perempuan dan laki-laki dengan warna packaging sesuai namanya ‘mas’ ini memiliki rasa yang sangat khas diingatan para anak-anak pada generasi tahun 90’an. Satu lagi, menurut saya pribadi… jajanan ini juga mengajarkan anak-anak pada masanya untuk bersabar dan bekerja keras, why?? Karena sebelum kita makan, kita diwajibkan dulu untuk meremas dulu mie nya, kemudian meracik bumbunya, di shake dulu, baru bisa dimakan. Kalau jajanan mie instan zaman sekarang mana ada yang begitu, serba instan, sama kayak kebanyakan karakter anak zaman sekarang. Hahahaha… XD iyak apa iyaaak?




YOSAN

Hasil hunting maniak Yosan dulu :p termasuk saya


Permen Karet Yosan
Y-O-S-A-N .
Yup! Ejaan inilah yang wajib kita lengkapi dulu. Dengan logo hewan-hewan lucu di package depannya dan dengan tebakkan-tebakkan lucu dibagian dalam kemasannya, permen karet ini berhasil menghipnotis para anak-anak untuk mengumpulkan bungkusnya, entah permennya dimakan atau tidak, yang jelas huruf didalamnya. Oh ya, konon katanya, huruf ‘N’ pada ejaan ini ga pernah ada lho… Hahahaha….. XD kesian yah yang udah berharap, :p





Penampakkan gerobak es goyang


Ritual celupin es ke cokelat, mesti banyak
Es Goyang
Menurut saya, ini salah satu jajanan yang sehat. Kenapa?? Karena es yang digunakan tidak dicampur dengan bahan es nya *tidak seperti es zaman sekarang yang banyakan pakai es balok yang dengar-dengar dari air sungai mentah yang dicampur dan diblender bersama es nya*. Es ini juga sangat unik, karena pembuatannya yaitu dengan cara memasukkan bahan es yang berupa campuran santan, perisa, gula dan sedikit garam ke dalam cetakan-cetakan yang sebelumnya sudah dibenamkan dalam es, lalu digoyang-goyang (sesuai namanya), dan ditusukkan lidi untuk pegangannya. Es ini punya banyak rasa, ada cokelat, strawberry, susu, dan terkadang ada durian. Oh, iya! Jangan lupa, sebelum dimakan wajib dicelupkan dulu kedalam cokelat cair. emmmmmmm… yummi :9



Permen Kelinci
Permen susu berbungkus plastik dengan warna dasar putih dan gambar kelinci ini mempunyai keunikkan tersendiri, kamu tidak usah membuang bungkus bening didalamnya, karena bungkus yang berupa lembaran tipis itu adalah agar-agar, yang kalau kena air liur kita akan mencair. Hahaha… teknologi jajanan canggih pada zaman nya.

Permen susu kelinci


Gulali
Proses pembuatan
Siapa yang tidak tahu jajanan yang satu ini ??? dipastikan semua tahu. Untuk jajanan yang satu ini tidak sembarang orang bisa menjadi penjualnya… karena sangat dibutuhkan kreativitas yang tonggi untuk bisa membentuk gulali yang masih panas dan lunak itu sebelum akhirnya mengeras. Saya ingat dulu, saya paling suka beli gulali dengan bentuk balon, ya… balon. Sesuai namanya, saya diwajibkan untuk meniup gulali itu sampai menggembung baru kemudian sang penjual menempelkannya pada sebatang lidi dan membentuk pita pada dasar balonnya. Hahaha XD pernah karena terlalu semangatnya saya meniup balon gulali itu sampai pecah dan hancur saat mengeras XD
Hasil kreasi pedangang gulali



Simping dan cokelat
Simping
Mungkin tidak semua teman-teman generasi 90’an pernah mencobanya atau sekedar mendengarnya, ini jajanan khas di desa Majalengka tempat saya dulu tinggal saat kecil. Jadi, menu utama dari jajanan ini adalah simping, ya simping (sama seperti pendamping jajanan rambut nenek, namun bentuknya ikan dengan ukuran selebar tangan orang dewasa). Cara memakannya pun dengan mencolekkan simping ke cokelat yang diberi penjual dan diletakkan dibagian tengah simping itu. Maniiisss….



 
Superman
Wafer Cokelat SUPERMAN
Ini jajanan wafer pertama mungkin di Indonesia. Eksistensinya pun tidak perlu ditanya lagi, dari sekian banyak jajanan tempo 90’an, sepertinya hanya wafer ini yang masih tetap banyak produksi, bahakan mengalami revolusi packaging, gambar superman nya agak kecilan. *udah capek kali superman nya yah.. :p






 
Permen Davos
Permen Bolong Davos
Ini sama seperti permen polo dizaman sekarang. Suatu ketika saat saya ke kebumen, saya pernah mendapati pedagang yang masih menjual permen ini, saya langsung membelinya dan mereinkarnasi lagi rasanya. mmmmm…. Rasanya masih tetap mint dan enak.. hehehe… :P tapi sayang saat itu saya lupa mendokumentasikannya. L







 
Ayam Jago
Cokelat Ayam Jago
Kalau sekarang mungkin selevel silverqueen yah sobat. Hahaha :p bedanya hanya pada harganya, kalau silverqueen mungkin mahal dan cokelat ayam jago elit (baca: ekonomi sulit alias murah). Hahaha XD



Cokelat Choya-choya 
Choya-choya
Ini cokelat temannya cokelat ayam jago dulu, hanya bedanya cokelat yang satu ini berwujud lunak setengah cair dan harus dimakan dengan menggunakan sendok kecil yang selalu disediakan dibagian atas package karton cokelatnya. Warnanya pun warna-warni, ada coklat, hijau, pink, dan kuning. kreatif… (y) Oh iya, namanya choya-choya yah. bukan chaiya-chaiya :p






 
Permen rokok
Permen Susu Rokok
Ini biasanya khusus untuk anak-anak yang 'sotoy', sok-sok an ngerokok padahal isinya permen susu. -_-" tapi rasanya enak koq.. saya pernah coba, dan pernah sotoy juga.. hahaha XD












Mungkin sekian yang bisa saya share  untuk me-remind kembali ingatan sobat i-tuners yang waktu kecilnya di zaman 90’an. Selamat senyum-senyum sendiri dan kalau ada yang mau menambahkan… silakan….. :D

by Sakii

Selasa, 25 Maret 2014

Journal Of Parasit

PARASITOLOGY
Saya mendapat dosen parasitologi lulusan UI yang katanya selalu belajar menggunakan jurnal dalam bahasa Inggris, so... my task was also to be the same as she :)
  1. In vivo imaging of trypanosomes for a better assessment of host–parasite relationships and drug efficacy
    Abstract: The advances in microscopy combined to the invaluable progress carried by the utilization of molecular, immunological or immunochemical markers and the implementation of more powerful imaging technologies have yielded great improvements to the knowledge of the interaction between microorganisms and their hosts, notably a better understanding of the establishment of infectious processes. Still today, the intricacies of the dialog between parasites, cells and tissues remain limited. Some improvements have been attained with the stable integration and expression of the green fluorescence protein or firefly luciferase and other reporter genes, which have allowed to better approach the monitoring of gene expression and protein localization in vivo, in situ and in real time. Aiming at better exploring the well-established models of murine infections with the characterized strains of Trypanosoma cruzi and Trypanosoma vivax, we revisited in the present report the state of the art about the tools for the imaging of Trypanosomatids in vitro and in vivo and show the latest
    transgenic parasites that we have engineered in our laboratory using conventional transfection methods. The targeting of trypanosomes presented in this study is a promising tool for approaching the biology of parasite interactions with host cells, the progression of the diseases they trigger and the screening of new drugs in vivo or in vitro.
    click here for download :)
  2. Pathogenicity of Achlya proliferoides and Saprolegnia diclina (Saprolegniaceae) Associated with Saprolegniosis Outbreaks in Cultured Nile Tilapia (Oreochromis niloticus)
    (saya menggunakan jurnal ini untuk tugas, eksperimennya mudah dipahami :D )
    Abstract: A study was conducted to evaluate the pathogenicity and pathology of Achlya proliferoides
    BSN-M005 and Saprolegnia diclina BSN-M003, isolated from saprolegniosis outbreaks against immature stages of Nile tilapia, Oreochromis niloticus. The cumulative mortality rates of the tested fish groups that exposed to high zoospore concentrations of A. proliferoides BSN-M005 and S. diclina BSN-M003 were 60 and 100% respectively. The histopathological changes associated with saprolegniosis lesions induced by S. diclina BSN-M003, were loss of the epidermis, edema of the hypodermis, different degrees of degenerative changes in the underling musculature and the fungal elements were observed penetrating the entire musculature. On the other hand, the histopathological changes associated with saprolegniosis lesions induced by A. proliferoides BSN-M005 showed mats of hyphae attached the surface of epidermis, necrosis, degenerative changes close to hyphae and sometimes fungal elements were observed penetrate into dermal layer but never reach the underling musculature. It is clear from our results that S. diclina BSN-M003 is highly pathogenic than A. proliferoides BSN-M005 to Nile tilapia.
    click here for download :)
  3. Monitoring and evaluation of lymphatic filariasis interventions: an improved PCR-based pool screening method for high throughput Wuchereria bancrofti detection using dried blood spots
    Abstract: Background: Effective diagnostic tools are necessary to monitor and evaluate interruption of Lymphatic Filariasis (LF) transmission. Accurate detection of Wuchereria bancrofti (Wb) microfilaria (mf) is essential to measure the impact of community treatment programmes. PCR-based assays are specific, highly sensitive tools allowing the detection of Wuchereria bancrofti DNA in human blood samples. However, current protocols describing the pool screening approach, use samples of less than 60 μl of blood, which limits the sensitivity of the pool-screen PCR assay. The purpose of this study was to improve the pool-screen PCR protocol to enhance its sensitivity and usefulness for population scale studies. Findings: DNA extractions were performed with the DNeasy kit, the PCR with the Wb LDR primers and the SYBR-Green dye. Improvements of our pool-screen real-time PCR (qPCR) assay allowed the detection of as little as one Wb microfilaria diluted in a pool of at least 12 blood samples of 60 μl each. Using this assay, mf burdens can be predicted using a standard curve derived from mf spiked dried blood samples. The sensitivity achieved is equivalent to the detection of a single LF positive individual carrying a mf burden as low as 18 mf/ml, in a pool of blood samples from at least 12 individuals. Conclusions: Due to its sensitivity, rapidity and cost-effectiveness, we suggest this qPCR pool-screening assay could be used as a diagnostic tool for population- scale filariasis elimination monitoring and evaluation.
    click here for download :)
  4. Research Article: New Host Record for Camponotophilus delvarei (Hymenoptera: Eurytomidae), a Parasitoid of Microdontine Larvae (Diptera: Syrphidae), Associated with the Ant Camponotus sp. aff. textor
    - This is not Journal but Research Article -
    click here for download :)

  5. Loa loa microfilaremia in a blood donor—A case report
    Abstract: We report a case of Loa loa microfilaremia in a healthy blood donor. The potential for transfu- sion-transmitted infection and the possibility of transfusion-associated allergic reactions calls for stringent donor requirements. We recom- mend that all blood products be additionally screened for possible hemoparasites.
    click here for download :)

Journal Of Ecology

EKOLOGI
Jurnal mengenai ekologi, karena kuliah saya selalu berhubungan dengan jurnal, maka saya diwajibkan untuk mencari jurnal mengenai ekologi untuk saya presentasikan individu dikelas, ini beberapa diantaranya yang sudah saya cari dari web. Semoga dapat membantu :)
  1. Fitososiologi Hutan
    Abstract: The degradation rate of forest in the recent 5 years increases rapidly, particulartly in Sulawesi. The biggest damaged comes from the human impact, which spreads to the conservation area. As a result, the areais decreased, whereas its function and its potency have not been explored. The ecological research has been conducted in Soloi forest, Suaka Margasatwa Buton Utara in May 2003. The objectives of this work are to study the condition, which belong to. 75 general and 35 families with density of trees are 277 individual (stem diameter > 10 cm ), and 1140 sampling ( 2-9,9 cm stem diameter ). The forest type is low land primary forest, which dominated by Casearia rugulosa, Diospyros pilosanthere, Cleistanthus myriantus, Canarium hirsutum, and Drypetes longifolia. In the forest structure, trees with 10-20 cm stem diameter is in the first rankwith the total number 57,02%, then followed by the trees with 20-30 cm diameter (20,22%). In general, the forest condition in research site is good, although a few areas are damaged due to illegal loging.
    click here for download :)

  2. Kehutanan
    Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara faktor aksesibilitas dengan penebangan liar
    dengan menggunakan data optikal penginderaan jauh dan SIG (Sistem Informasi Geografis). Dua set
    data dari Landsat-7 ETM+ pengambilan 16 Agustus 2002 dan 31 Mei 2003 digunakan dalam penelitian
    ini. Subpixel Classifier digunakan untuk memperoleh peta yang menunjukkan titik-titik baru
    penebangan, yaitu areal penebangan liar. Dua faktor dianalisa untuk mengetahui hubungannya dengan
    penebangan liar; jarak dari jalan dan jarak dari jalan masuk utama. Peta dibuat dengan menampilkan
    kelas-kelas dari dua faktor tersebut. Kedua peta tersebut ditampalkan secara terpisah dengan peta
    penebangan liar tahun 2002 dan 2003. Hubungan antara masing-masing faktor dan persentase
    penebangan liar dianalisa dengan menggunakan korelasi Spearman. Hasil dari pertampalan tersebut
    menunjukkan hubungan antara keduanya pada dua tahun tersebut. Penebangan liar lebih banyak
    ditemukan pada jarak yang lebih dekat dari jalan dan jalan masuk. Dengan demikian, dapat
    disimpulkan adanya hubungan antara jarak dari jalan dan jalan masuk dengan penebangan liar.
    Kata kunci: penginderaan jauh, SIG, penebangan liar, faktor aksesibilitas.
    click here for download :)

  3. Kondisi Ekologi dan Pemanfaatan Mangrove
    Abstract: This study aims to determine the ecological condition of mangrove forests, and the use/utilization of mangrove forests. The method used is method of survey and interview cruising. Ecological data retrieval is done by making transects kuadrant shaped by the size of 25x25 cm by 3 pieces lengthwise parallel to the coastline of South Tarohan Village. Respondents to the data carried by a purposive sampling interview respondents who have been determined. The results showed that the highest density is owned by Sonneratia alba and the highest frequency is owned by species Sonneratia Alba its index value is also important because it is owned by Sonneratia Alba. Sonneratia Alba is a type of mangrove, Sonneratia which have a dominant role in the mangrove forest ecosystem. Environmental conditions of coastal waters of South Tarohan village has a good environment and support the survival of mangrove forests and biota in the vicinity. South Tarohan Villagers were already aware of and understand the benefits of mangrove forests, it can not guarantee the preservation of mangrove forests because most people still use mangrove wood for household needs for fuel wood.
    click here for download :)